Sejarah Film Sponge Bob

Aq ada untukmu
Walau kau tak mengerti keberadaannya
Kau tetap mencari
Walau kau tak tau
Apakah ia masih ada
Atau dipanggil Yang Maha Kuasa
Kau berlari dan mencari
Kau berlari ke hutan
Kau berjalan di laut
Kau mendaki ke gunung
Namun......
Sia-sia semua pengorbananmu
Jika kau merasa lelah
Berbaringlah di pangkuanku
Pangkuanku ada untuk kau berabaring
Ku kan selalu menunggumu
Hingga kau tertidur lelap
Dan kau merasa tak lelah
Namun jika engkau ingin menangis
Bersandarlah di punggungku
Curahkanlah semua perasaanmu
Titihkan seluruh air matamu
Lepaskan beban di pundakmu
Hingga kau merasa tak terbebani
Makna Isra Mi'raj

Yach...tanggal 29 Juni kemaren ini diperingati sebagai hari Isra Mi'raj...pasti pada seneng karena liburan kan...tapi jangan cuma itu aja...kalian juga harus tau apa makna dari Isra Mi'raj itu...
Kisah dalam Al-Qur'an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang isra':
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Dan tentang mi'raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:
"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu. Kejadian-kejadian sekitar isra' dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits- hadits nabi. Dari hadits-hadits yang sahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah. Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW salat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, "Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah ummat engkau."
Dengan buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi. Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib. Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku." Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah salat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa salat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60). "Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa isra' mi'raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur'an. Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan? Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfer. Langit (samaa' atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada. Bilangan 'tujuh' sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur'an tidak selalu menyatakan hitungan eksak dalam sistem desimal. Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: "Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang dikehendakinya...."
Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.
Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj.
Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra'-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.
- Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78).
Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.
Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.
Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).
- Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).
Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27).
Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).
Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).
Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:
Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).
Ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).
Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.
(pelangi pendidikan,media.isnet)
Apa bisa dibilang aneh...??/
Ini sih cm maw sharing ajah... tentang aq kok,,,(ga penting ya?? hahaha. Mungkin semua orang punya keanehan-keanehan tertentu... *apaan sih Ri,, ga ngerti* sama... Rhiery juga bingung maw nulis awalnya apa...
Kebiasaan-kebiasaan yang agak aneh ini pengen aq sharing,,,dan sebenernya pengen taw apa sih penyebabnya, kenapa bisa begini... kenapa bisa begitu...

Dari makanan dulu nih,,, yg paling aq ga bisa tuh ada sayur di makanan aq.. hoeeeekk banget. Ga taw kenapa, bau,dan rasanya itu smpe bisa buat neurotransmitternya yang diotak nih brjalan cepat bahkan berlari langsung ke pusat mual dan muntah di CTZ.. dan langsung mual (haaahhh leebaaaayyy) tapi emang gitu,, ga taw kenapa.
Makanya klo lagi makan ma temen, aq lebih memilih aq aja yg pesen, soalnya pesenan aq banyak maunya,,hahaha... daripada udah kecampur sama yang namanya sayur, aq bakal nambah waktu lama lagi buat misah-misahin tuh makanan, dan iya klo abis makannya...hehehe.. abis, udah eneg duluan. Nah, ini... apa bisa dibilang aneeh??
apalagi ya... hm... parfum... aq juga ga suka orang yg parfumnya nyegrak bnget,,mungkin kalo' ini aq banyak temennya kali ya...tapi rata-rata aq ga suka parfum orang.. baunya kerasa aneh di hidung,,dan langsung tuh melesat si neurotransmitter dan jadi mual agaaiinn... hahaha. Di kampus tuh seringnya, apalagi kalo kuliahnya agak siang,,udah laper,panas,ada yang masuk pke parfum nyegrak.. oh em giiii.... mesti aq dah pusing, mual... untung aja ga sampe fase menjeluak dan muntah..hahaha... gak kebayang baca artikel di kelas "mahasiswi muntah-muntah gara-gara parfum" hahaha... untungnya ga sampe sgitunya,,, cuma mual aja.
Tapi mualnya smpe bikin aq jadi kyak PMS,, hahaha... ngomel-ngomeeell gak jelas.
ada lagi niiih... Minyak Kayu Putih... ini gak bisa banggeett... baunya ya ampuuunn. ya baunya emang gtu sih,, mungkin kalian suka, tapi gak taw kenapa hidungku mencium itu rasanya sangaaaat tidak enak,, yah smpe mual gitu. Sampe ortuQ sering marah, karena kalo aq sakit, aq gag maw pake minyak kayu putih,, hahaha...
Kenapa coba itu semuaaaa??? apa sih penyebabnya? ada yang tau?? apa karena otaknya udah termainset gitu apa ya?? gak cuma aq kok yang begini,,ada temen aq yang liat ikan goreng/ikan dimasak gitu dia udah eneg,, ada yang gak mau makan ayam tapi bukan karena alergi... kenapa ya?? trus apa itu bisa dibilang aneh?? gak kan yaaa.... (hahaha maksa) dibilang aneh kan karena orang lain tidak pernah ketemu dengan orang aneh ini,, tapi kalo orang aneh kumpul ma orang aneh,, mesti gak merasa aneh kan?? jiaaaaahhh hahaahahaha.... paaraaaahhh.....

aq sering berfikir,, apa bisa ya kalo' aq mensugesti diri sendiri... kayak kalo misalnya aq takut di suatu tempat, segera aja berfikiran "aku ada temennya, aku ada yang nemenin,, disini ga ada apa-apa, gak boleh takut" atau kalo' besok harus bangun pagi, malamnya sebelum tidur, coba deh membatin atau ngomong deh dengan niat tulus ikhlas hati damai (halah...)"besok ada kerjaan banyak, harus bangun jam5" ngomong terus berulang ulang, insyaAllah bisa bangun jam 5... dulunya aq pikirnya itu karena malaikat di samping kita denger permohonan kita yang tulus, jadi dibangunin, gitu..hehehe. tapi mungkin juga kita bisa mensugesti atau menanamkan sesuatu di otak kita, biar kita bisa lakukan itu, gitu..
tapi aq juga belum mencoba, baru berfikir,,, abisnya kalo udah nyium bau minyak kayu putih dah eneg duluan siihh...
apa terapi yang pake alam bawah sadar itu juga gitu ya?? jadi menanamkan kebalikan dari apa yang kita takuti... tapi sebenernya kita bisa melakukan itu sendiri asal niat... bisa gag ya... huhuhu...
yah,, ini mau sharing ajah sih... ya siapa tau ada temen-temen aneh yang lain... hwahahahaha,, atau ada yang bisa mengatasi keanehan/ketakutannya itu...
maafkan cerita yang ga penting ini, disini hanya bermaksud untuk sharing tentang cerita yang ga penting ini,,, siapa tau anda memiliki cerita yang ga penting seperti ini,,, jiiiaaaahhhh... (setannya salah masuk nih... :D )
makasih udah maw baca... ^^
ketika semua diatasnamakan cinta...
Cinta itu tidak statis, cinta itu dinamis, penuh vitalitas dan energi yang mampu membangkitkan kekuatan-kekuatan tersembunyi dalam diri sampai akhirnya dahaga cinta itu terpuaskan.
Sekali lagi, cinta menimbulkan serangkaian konsekuensi. Ketika seseorang telah menyatakan cinta dan berkomitmen dengan cinta, maka segala tingkah lakunya akan berjalan di jalur cinta tersebut. Bukankah seorang pecinta akan berusaha untuk menghadirkan kesamaan dengan yang dicintainya, sehingga yang dicintai itu menjadi ridha kepada-Nya?
1. Care (Perhatian)
Cinta harus melahirkan perhatian pada obyek yang dicintai.
Ketika kita mencintai seseorang, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapinya, akan berusaha meringankan bebannya, dan memberikan perhatian yang tinggi atas semua gerak-geriknya.
2. Responsibility (Tanggung Jawab)
Cinta harus melahirkan sikap bertanggung jawab terhadap obyek yang dicintainya.
Suami yang mencintai istrinya, akan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Ia pun akan bertanggung jawab dan mendedikasikan segenap potensi dirinya untuk ‘membahagiakan’ obyek yang dicintainya.
3. Respect (Hormat)
Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya obyek yang dicintai dan selalu berikhtiyar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect
4. Knowledge (Pengetahuan)
Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk-beluk obyek yang dicintai.
Ketika kita mencintai seseorang yang akan menjadi teman hidup, kita akan berusaha memahami kepribadian, latar belakang, minat dan kualitas keimanannya.
What the meaning of life...??
Pernahkah kita sejenak berpikir tentang kehidupan ini? Siapa kita? Siapa saya? Trus, untuk apa saya ada? Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan ini? Apa yang ngin saya lakukan hari ini, besok, tahun depan, 5 tahun lagi, 10, atau 50 tahun lagi? Apa yang ingin saya raih di masa mendatang? Pertanyaan yang mudah barangkali, cukup sederhana, namun itu harus segera dijawab sekarang, karena kalau tidak bias jadi kita akan mengalami disorientasi dalam kehidupan ini. Waktu hanya akan mengalir begitu saja tanpa kita sadari, dan ternyata waktu telah berjalan hingga kita berada dalam penghujung kehidupan, namun kita akan kebingungan saya kita bertanya dalam diri, apa yang telah saya lakukan kemarin, setahun yang lalu, 10 tahun yang lalu? Kok kondisinya jadi seperti ini? Atau pernahkah kita berkomentar dalam diri kita pada saat ini, 밯ah, kok nggak kerasa ya hari ini dah kerja di sini setahun lebih, perasaan baru kemarin saya masuk kuliah, eh hari ini dah lulus sarjana dan dah kerja lebih dari setahun lagi? atau komentar2 serupa yang berujung pada kebingungan dalam diri dan ketercengangan kita bahwa hidup ternyata berjalan begitu cepat.
Seorang teman pernah berkata bahwa saat ini ia terus-menerus mencari pengalaman kerja meski dari satu tempat kerja ke tempat yang lain hanya bebekal pengalaman bulanan saja, yang akhirnya ia ingin dapat kerja di suatu perusahaan minyak yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampung halamannya, jadi ia akan lebih mudah untuk pulkam nentinya. Atau teman yang lain berkomentar bahwa setelah saat ini ia sudah mengambil kredit rumah, selanjutnya ia tahun depan menikah, 3 tahun lagi punya mobil, dst yang saya tangkap bahwa orientasinya berujung pada materi saja, meski itu penangkapan pribadi, namun setidaknya itulah yang dapat saya tangkap saat ini.
Seringkali kita menemui buku tentang arti sukses, tentang biografi orang sukses, atau doktrin2 tentang kehidupan yang menurut saya itu bukanlah sesuatu yang mendasar. Atau dengan kata lain doktrin tentang bagaimana menjalani hidup sengan sukses, tentu saja menurut sang penulis. Sukses kalau kita jadi pengusaha, entrpeneur, memiliki kebebasan finansial, bukan menjadi buruh, bekerja pada orang lain, tapi bekerja untuk diri sendiri, dll. Yang menurut saya hal itu kok cenderung menyamaratakan bahwa seseorang sukses itu harus seperti ini, kalau nggak seperti itu ya nggak sukses. Atau ada sebagian orang yang terus-menerus mencari jati diri katanya sampai mati barangkali. Nah, kalau kita tidak memiliki konsep dan orientasi yang jelas dalam hidup ini, bias jadi kita akan menjadi orang seperti yang pada awal saya ungkapkan di atas, lupa akan waktu dan tanpa sadar lewat begitu saja. Atau kita memaksakan diri untuk menjadi sukses seperti orang lain padahal potensi atau kecenderungan bakat kita lain dengan orang lain. Atau berkutat dengan filsafat kehidupan yang kita sendiri takkan menemukan jawabannya.
Trus bagaimana dong? Bagi saya permasalahannya nggak begitu rumit sih. As a muslim, kita sudah memiliki konsep kehidupan dari Sang Khalik, bahwa hidup adalah untuk ibadah kepada-Nya, titik. Ada dua macam ibadah yang harus dilakukan, ibadah mahdah yang sudah jelas tidak perlu diperdebatkan lagi cara dan tuntunannya, kalau maih diotak-atik bisa2 malah sesat, sebab Allah tidak memberi ruang kreativitas di sini. Ibadah mahdah inipun gak macem2 kok kalau kita nggak macem2 juga. Sedangkan ibadah yang ghairu mahdah disinilah kita diperbolehkan berkreasi sepuas-puasnya, selama tidak melanggar batasan. Kita mau jadi pengusaha, buruh, bekerja untuk orang lain atau diri sendiri, PNS, petani, tukang jual es keliling, terserah, yang penting ada orientasi untuk ibadah dan tidak ada pelanggaran syariat. Inilah menurut saya yang cocok, walaupun nantinya kalau kita bicara tentang bagaimana pemakmuran masyarakat, proses menuju kehidupan yang lebih Islami itu akan memerlukan pembicaraan yang mendalam. Namun pad tingkat individu ya menurut saya seperti itu. Sehingga yang jadi pengusaha tidak memandang sinis yang masih menjadi buruh sebagai warga berderajat lebih rendah, atau nggak sukses dalam hidup. Sebab derajat ketakwaan nggak diukur dengan kamu jadi pengusaha atau nggak, bebas secara finansial atau nggak, meskipun Rasul sendiri mengatakan bahwa 9 dari 10 pintu rizki itu ada pada wirausaha, atau Rasul dan banyak para sahabatnya adalah seorang pengusaha juga.
Bagi saya, hidup mencari ridho Allah, kalau kita sulit mengukur apakah kita sudah mendapat ridho Allah atau nggak, parameternya cukup mudah. Karena ridho-Nya itu terletak pada ridho kedua ortu kita, nah tinggal kita berbuat sebaik-baiknya agar kita mendapat ridho kedua orang tua kita di dunia ini yang saya yakin seyakin yakinnya itu bisa membawa kita kepada ridho-Nya. Selain itu, sukses bagi saya adalah bisa menjadi pemimpin keluarga saya nantinya dengan baik, klisenya itu keluarga yang sakinah mawaddah warahmah lah, bisa sebagai surga di dunia ini. Sebab tidak sedikit kita menyaksikan seseorang yang kita pandang 뱒ukses?di dunia ini namun keluarganya sendiri berantakan. Karena keluarga inilah elemen masyarakat yang paling kecil, kemakmuran dan kebahagian masyarakat, bangsa dan negara dimulai dari lingkungan keluarga ini. Tidak sedikit kita menyaksikan bahwa mereka yang korupsi, berbuat mungkar yang karena dimulai dari berantakannya keluarga mereka. So, jangan remehkan keluarga, sukses itu dimulai di sini, dan akan lebih terasa di sini. Trus bagaimana dengan kontribusi kita terhadap masyarakat? Nah inilah yang harus kita garis bawahi juga, tapi minimal kita memang jangan sampai menjadi manusia makruh, paling nggak manusia mubah lah, lebih baik lagi kalau kita menjadi manusia sunnah yang kehadirannya bemanfaat, apalagi manusia wajib yang sangat dibutuhkan keberadaannya. Paling nggak kita ada kontribusi kepada masyarakat dimana kita hidup. Intinya itu, kontribusi, sejauh kita mampu. Tapi sekali lagi, don뭪 forget tour family. Dan jangan sampai kita punya musuh, karena teman seribu tak berarti bila punya musuh 1 orang saja. Jadi, berhati-hatilah dalam bergaul, mengingat hati orang sangat sulit ditebak, terlihat tidak aa apa2, namun sesungguhnya kita telah menusuk hatinya yang paling dalam. Terkait dengan kesuksesan itu juga, saya membuka berbagai peluang untuk menemukan jati diri saya, mengali semua potensi, tidak harus seperti ini dan itu, seperti dia atau mereka. Saya akan senantiasa mencari tempat yang terbaik bagi saya untuk mengembangkan diri, meningkatkan potensi diri. Hidup tidak boleh stagnan, jangan puas dengan kemapanan. Ia harus senantiasa mengalir layaknya air, seraya mengukir bebatuan. Itu akan terus dilakukan selama ada kenikmatan dan bisa enjoy melakukannya, bukan melah menyiksa diri sendiri dengan anggapan orang yang belum tentu benar. Masukan orang lain kadang perlu untuk instrospeksi, namun kadang cuek is the best. Sesuatu akan saya lakukan selama itu tidak melanggar syariat, dan saya bisa menikmatinya, perkataan orang lain mah ya nomor ke sekian lah, buat input saja.
Itulah gunanya instrospeksi diri, agar kita senantiasa bisa meluruskan jalan hidup kita yang tak terasa sudah melenceng, mengembalikan pada track yang benar. Tidak sesuka kita sendiri. Ya Rabb yang Maha Membolakbalikkan hati, kiranya Engkau senantiasa menuntun kami agar tetap berada di jalan-Mu.
Detik-detik menjelang Ramadhan, berharap pasca Ramadhan hidup ini lebih bermakna dari sebelumnya.
Boros

Sadarkah anda bahwa pada umumnya manusia hidup dalam keborosan di berbagai bidang kehidupan dan mungkin kita adalah salah satu pelakunya. Sebenarnya kita sangat bisa hidup dalam kesederhanaan tanpa harus bergaya kemewah-mewahan dan suka membuang-buang sesuatu yang berharga dan terbatas jumlahnya dalam keseharian hidup kita. Ingatkah dengan kata-kata hemat pangkal kaya dan kebalikannya boros pangkal miskin? Memang tidak selalu orang yang boros akan menjadi miskin di dunia, akan tetapi bisa jadi miskinnya di akhirat. Beberapa Hal Yang Biasa Kita Lakukan Dengan Boros : 1. Boros Uang / Boros Belanja Dalam membeli sesuatu pikirkanlah masak-masak. Beli sesuatu yang kita butuh, bukan membeli karena kita suka akan suatu produk barang maupun jasa yang ditawarkan. Tabung uang kita dalam bentuk logam mulia agar memiliki nilai yang stabil hingga kita masa tua kita. Pikirkan masa lansia kita yang mungkin di saat itu kita tidak berdaya dan tidak ada yang mau menolong kita, kecuali diri kita sendiri. 2. Boros Pulsa Berkomunikasilah yang wajar dan jalani hidup tanpa harus menggantungkan hidup kepada alat elektronik untuk berkomunikasi seperti halnya manusia di tahun 1990an ke bawah. Gunakan alat komunikasi seperlunya di saat yang penting saja bukan untuk sekedar bersenang-senang. Temui teman langsung akan lebih baik daripada hanya berkomunikasi panjang lebar melalui layar kecil yang menyita waktu kita seharian. 3. Boros Listrik Kemampuan negara dan swasta untuk menghasilkan listrik sangat terbatas, sehingga kita dituntut untuk bisa menggunakan daya listrik sekecil mungkin. Tidak harus mengurangi penggunaan listrik yang ada, tetapi hanya mengubah perangkat listrik yang membutuhkan daya listrik besar dengan yang membutuhkan daya listrik watt kecil. Di samping kita mengubah gaya hidup seperti rajin mematikan lampu yang tidak dipakai, mencabut colokan listrik dari alat yang tidak sedang digunakan, memasang alat penghemat listrik, dan lain-lain. 4. Boros Air Bersih Perhatikan waktu kita mandi apakah saat mengguyur badan kita banyak air yang tidak mengenai badan kita? Apakah saat kita sudah bersih dari kotoran maupun busa kita masih suka menyiram air? Apakah kita munggunakan terlalu banyak air bersih untuk menyiram tanaman, mencuci mobil / sepeda motor, mencuci baju, mengepel lantai, dan lain sebagainya? Mungkin hemat yang sehemat-hematnya hanya terpaksa dilakukan oleh orang yang penggunaan air bersihnya berbayar atau di wilayah tersebut sulit untuk mendapatkan air bersih. 5. Boros Bahan Bakar Anda pasti tahu bahwa mobil itu konsumsi bahan bakarnya sangat boros sekali apabila dibandingkan dengan sepeda motor. Gunakanlah juga kendaraan umum masal seperti bis umum, kereta listrik, monorail, kereta bawah tanah, dan lain-lain untuk menghemat bahan bakar secara keseluruhan. Selain itu hemat juga penggunaan gas kita untuk memasak biarpun negara kita kaya akan gas alam karena jumlahnya terbatas dan bisa habis sewaktu-waktu. 6. Boros Makanan / Boros Jajan Jangan suka menyisakan makanan dan minuman yang kita makan, karena bahan pangan adalah sumber daya yang sangat terbatas jumlahnya. Masih banyak orang yang lapar dan kekurangan gizi dan juga sangat berbahaya jika kita terlalu banyak makan. Yang memiliki rejeki lebih, berbagilah dengan yang punya rezeki kurang. Kalau bisa jangan hanya jadi konsumen makanan dan minuman saja, kita pun juga bisa turut berpartisipasi menanam bahan pangan dengan tangan maupun modal kita sendiri. Makanan dan minuman yang enak tidak selalu harus mahal harganya, tinggal bagaimana kita yang mengelola makanan dan minuman yang kita makan dan minum. 7. Boros Teknologi Orang yang suka mengikuti tren teknologi biasanya boros dalam membelanjakan uangnya. Ada sesuatu yang baru dan masih mahal dibeli juga tanpa berpikir panjang. Contohnya seperti handphone, mobil, sepeda motor, komputer, laptop, dan lain sebagainya. 8. Boros Gaya Mode Trendi Lain halnya dengan boros barang-barang berteknologi baru. Boros yang satu ini lebih ke arah gaya. Orang ini kalau tidak ikut gaya terbaru batinnya akan sangat tersiksa. Mulai dari pakaian, gaya rambut, dandanan, salon, spa, tempat nongkrong, aksesoris, perhiasan, dan lain-lain. Padahal kita bisa menjadi orang yang biasa tanpa harus memakai sesuatu tambahan apapun yang melekat di tubuh kita. Orang dihormati bukan karena gayanya keren, tetapi karena kontribusi kepada sesama manusia di lingkungannya. 9. Boros Waktu Banyak orang yang menghabiskan waktu dalam hidupnya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat seperti nonton tv, ngerumpi, clubbing, tidur, nongkrong, main game, melakukan tindak kejahatan, bermalas-malasan, dan lain sebagainya. Mari kita renungkan dan intropeksi kembali penggunaan waktu kita selama ini. Ubahlah menjadi sesuatu yang beguna bagi diri kita sendiri dan terhadap sesama. 10. Boros Urusan Dunia Ingatlah bahwa kita hidup di dunia hanya sebentar saja mungkin tidak lebih dari 100 tahun kemudian kita akan menjadi tua renta dan akhirnya kita akan dipaksa masuk ke dalam kuburan atau ruang pembakaran mayat untuk mengenyahkan raga mati kita yang berbahaya dari kehidupan ini. Setelah hidup di dunia ada kehidupan lagi yang kekal di akhirat. Kita hidup di dunia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Tuhan sang pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Gagal ujian di dunia, berarti penderitaan yang kekal setelah kita mati. ----- Akhir kata, sebaiknya kita bijaksana dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Gunakan sumber daya yang ada secara hemat untuk dapat disimpan sebagai bekal di hari esok. Masa depan adalah sesuatu yang tidak bisa kita prediksi. Sekarang kita ada di atas, mungkin besok-besok kita bisa ada di bawah. Hiduplah yang sederhana-sederhana saja dan berbagilah kebahagiaan dengan sesama karena kita hidup tidak akan mampu sendiri di dunia ini.

